Rabu, 19 Oktober 2016

Pejuang Suriah Tolak Keluar Dari Alepo

Aleppo – Faksi-faksi bersenjata oposisi Suriah, Selasa (18/10), menegaskan menolak penarikan pejuang dari faksi manapun dari Aleppo. Sikap ini ditegaskan setelah Rusia mengumumkan menghentikan sementara serangan udara di Aleppo dengan maksud faksi-faksi yang dianggap moderat memisahkan diri atau mengusir Jabhah Fath Al-Syam dari Aleppo.

“Faksi-faksi menolak keluar atau menyerah,” tegas Zakaria Mulahafji, Kepala Biro Politik faksi Tajammuk Fastaqim yang bermarkas di Aleppo.

Pada bagiannya, seorang Komandan Ahrar Al-Syam, Al-Faruq Abu Bakar, menegaskan bahwa faksi-faksi pejuang akan melanjutkan pertempuran. Di Aleppo, lanjutnya, tidak ada satupun teroris. Mereka (faksi-faksi pejuang) akan terus mengangkat senjata untuk melindungi warga dan sampai rezim tumbang.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu , Senin lalu, mengumumkan jeda serangan udara terhadap wilayah oposisi di Aleppo selama beberapa jam. Penghentian serangan ini, katanya, untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk.

Para ahli juga akan menggelar pertemuan untuk menyusun strategi memisahkan faksi-faksi oposisi dengan faksi yang dianggap teroris di Aleppo. Pertemuan ini, kata Shoigu, akan digelar di Jenewa Rabu ini.

Di sisi lain, PBB menegaskan pihaknya tidak mendapat jaminan kemanan dari gencatan sementara Rusia itu. Tidak mungkin melakukan bantuan kemanusiaan di wilayah yang paling bergolak tersebut sementara senjata-senjata masih mengincar.

Ulama,,, Tapi Tak Diharapkan Umat


Ulama merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam Islam. Mereka adalah pewaris yang menyampaikan kebenaran Islam. Melalui mereka, petunjuk Islam tersebar ke seluruh penjuru bumi, ilmu-ilmu Islam terwariskan antar generasi. Bagaikan lentera yang menyinari, membimbing umat kepada jalan yang Allah ridhai.

Kehidupan mereka sangat sederhana dan sangat bersahaja, tidak mau berdekatan dengan para penguasa. Apalagi mengikuti keinginan mereka dalam berfatwa, sehingga demi sebuah kebenaran tak sedikit di antara mereka yang harus rela dirinya disiksa. Maka, wajarlah jika Islam benar-benar memuliakan mereka dengan menyebut, “Para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi)

Lebih dari itu, Allah SWT juga mengangkat derajat mereka sesuai dengan ilmu dan keimanan mereka. Hal itu tidak lain karena besarnya pengaruh dan manfaat yang mereka berikan kepada umat. Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Al-Mujadilah: 11)

Meski demikian, ternyata tidak semua di antara mereka “ulama-ulama” tersebut sesuai dengan harapan dan karateristik para ulama yang sesungguhnya. Terutama untuk hari ini, di tengah krisisnya para ulama yang bisa dijadikan sebagai panutan, berbagai macam syubhat pun terus bermunculan.
Di saat seperti itu, umat mulai kebingungan dalam mencari sosok yang bisa diikuti dan menjadi rujukan dalam persoalan agama. Efeknya, tidak sedikit di antara mereka yang tersesat dan menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Di tengah kelangkaan ulama, kini mulai bermunculan ustadz dan para dai muda yang rutin disiarkan di stasiun televisi. Meskipun —pada kenyataannya— mereka sulit kita sebut sebagai ulama karena seorang ulama itu memiliki syarat dan kriteria tertentu.
Kehadiran mereka cukup membawa animo masyarakat dalam memahami ajaran Islam. Sehingga tidak sedikit juga di antara masyarakat yang mengelu-elukan mereka sebagai ustadz, atau bahkan menganggap sebagai ulama yang layak diteladani.

Pihak stasiun televisi pun banyak yang salah dalam menentukan standar pemilihan ustadz yang layak berbicara soal agama. Mereka lebih banyak menekankan sosok yang tampil itu lebih pada aspek hiburannya saja, tak masalah jika ilmu dan pemahaman para dai itu dangkal.

Bahkan, ketika yang tampil menunjukkan sosok kebanci-bancian atau meniru-niru gaya perempuan pun tidak masalah, no problem, yang penting menghibur. Maka dari itu, tak heran jika sosok ustads yang tampil di televisi umumnya memiliki ilmu dan pemahaman Islam yang dangkal, menjawab pertanyaan audiens dan pemirsa pun sekenanya—bahkan tak jarang melenceng.

Selain itu pula, dalam dunia dakwah juga muncul sejumlah da’i yang menyebarkan syubhat di tengah umat. Kemampuan ilmu mereka mungkin lebih hebat dari pada para da’i yang suka “menghibur pemirsa” di acara-acara televisi. Namun, dakwah yang mereka serukan sering bertolakbelakang dengan prinsip yang diharapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Mereka lebih suka berdekatan dengan para penguasa. Kajian yang mereka sampaikan sering menghibur hati mereka. Fatwa-fatwa yang dikeluarkannya pun tidak jauh dari keinganan yang berkuasa. Meskipun si penguasa itu sendiri tidak mau menerapkan hukum dari Sang Maha Kuasa.
Terhadap da’i seperti itu, Rasulullah SAW telah meperingatkan umatnya akan bahaya mereka. Beliau bersabda:
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ
“Sesungguhnya yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud dan ad-Darimi)

Ulama, Tapi Tak Diharapkan Umat

Banyaknya ilmu seseorang tidak cukup menjadi barometer dalam menilai keselamatan manhaj, apalagi kalau hanya sekedar pintar beretorika di depan publik. Seringkali orang yang berilmu tapi tidak menghantarkannya kepada jalan yang diridhai Allah. Bahkan, tak jarang ilmu itu sendiri justru menjadi fitnah yang menyesatkan masyarakat.

Ada beberapa indikasi atau tanda seseorang yang memiliki ilmu namun menyimpang dari jalan yang benar. Dalam kitab Miftah Dar Sa’adah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membuat klasifikasi para pengemban ilmu yang tidak baik—tidak membawa maslahat—menjadi empat jenis.

Beliau lalu berkata, “Keempat golongan tersebut pada hakikatnya bukanlah para pendakwah agama Islam, bukan para imam mujtahid, bukan pula para penuntut ilmu yang sejati. Siapapun dari mereka yang berhubungan dengan ilmu, maka sudah dipastikan itu hanyalah topeng ilmiah belaka. Mereka hanyalah orang-orang yang menyerupai para pengemban ilmu.”

Fitnah manusia tipe seperti ini adalah sebenar-benar fitnah bagi semua orang. Sebab, orang akan tertipu dengan penampilan mereka yang menyerupai para ulama. Lantas, siapa saja keempat golongan tersebut?

Pertama, orang yang sama sekali tidak bisa mengemban amanah. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan dan kemampuan hafalan yang kuat, namun mereka kejernihan jiwa. Ia jadikan ilmunya sebagai alat untuk bekerja mencari nafkah di dunia. Padahal hakikat ilmu adalah alat untuk mencari nafkah di akhirat. Mereka gunakan ilmunya untuk mengumpulkan materi duniawi. Mereka sangat tidak amanah dalam mengemban ilmu yang dimiliknya.

Selamanya, Allah tidak akan menjadikannya sebagai imam. Sebab, orang yang amanah adalah mereka yang tidak memilliki tujuan dan niat untuk kepentingan dirinya dan senantiasa berusaha agar sesuai dengan kebenaran. Maka, ia tidak pernah menggunakan ilmunya untuk berkempanye membangun singgasana kepemimpinannya atau dunianya.

Tipe manusia ini benar-benar telah menjadikan barang dagangan akhirat sebagai barang dagangan dunia, ia telah menkhianati Allah, manusia dan agamanya.

Kedua, orang yang hanya menuruti kesenangannya, sehingga ia selalu menuruti dorongann syahwatnya. Ia akan selalu tunduk kepada orang yang bisa memuaskan keinginannya.

Ketiga, orang yang ambisinya selalu mengumpulkan harta, menginvestasikannya, serta menumpuknya sebanyak mungkin. Itulah kesenangan dalam hidupnya. Urusaan yang lain tidak ada artinya baginya. Tidak ada yang lebih baik selain pekerjaannya tersebut. Betapa jauh posisi orang semacam ini dari ilmu.

Keempat, tipe orang yang hanya menuruti kemauan orang lain. Di dalam hatinya ia tidak memiliki pendirian yang bisa membuatnya merasa senang. Orang seperti ini lemah bashirah-nya. Oleh karena itu, ia hanya menuruti kehendak orang lain.

Lebih lanjut Ibnu Qayyim mengungkapkan alasan mengapa keempat tipe orang tersebut layak disebut pengemban ilmu yang tidak baik dan hanya menjadi fitnah di tengah masyarakat. Di antaranya adalah karena adanya keraguan yang membuat hati mereka cacat, banyaknya syubhat yang menyelimuti mereka. Mereka tidak mampu menepis syubhat ini karena minimnya ilmu dan keyakinannya. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan orang yang memiliki ilmu yang kuat mereka akan dapat menepis segala macam bentuk syubhat dengan mudah. (Miftah Dar Sa’adah, 1/261)

Kemudian pada kesempatan yang lain Ibnu Qayyim berkata, “Semua ulama yang mementingkan dunia dan mencintainya sudah bisa dipastikan bahwa dia berdusta atas nama Allah. Ia akan mengatakan kebatilan tentang Allah, baik itu dengan fatwanya, keputusannya, pemberitaannya maupun ketentuan yang dibuatnya. Sebaab, banyak di antara hukum Allah yang bertentangan dengan kemauan dan kepentingan manusia, khususnya kalangan para penguasa dan orang-orang yang menjadi budak hhawa nafsunya. Maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka tidak akan dapat meraih impian yang mereka dambakan selain dengan jalan menyelisihi dan menolak kebenaran.”(Ibnu Qayyim dalam Al-Fawa’id)

Demikianlah empat tipe para pengemban ilmu yang tidak diharapkan umat. Ilmu mereka tidak membawa maslahat untuk umat, justru menjadi fitnah yang melahirkan berbagai macam syubhat di tengan masyarakat. Semoga dengan memahami empat jenis para ulama di atas kita bisa pelajaran bagi kita dalam memilih para ulama yang pantas dimintakan pendapatnya dan layak untuk dijadikan teladan dalam kehidupan
Selasa, 18 Oktober 2016

Din Syamsudin: Jika Negara Tak Hadir dalam Kasus Ahok, Suasana akan Lebih Buruk

Foto: Din Syamsudin
Jakarta – Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin memperingatkan agar tidak pihak ada yang mengganggu keyakinan orang lain. Dia pun meminta negara hadir menyelesaikan kasus Ahok, agar suasana tidak berubah jadi lebih buruk.
Menurut pria yang juga mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, kerukunan beragama sangat diperlukan dalam membangun Indonesia. Karenanya, toleransi harus selalu dikedepankan dan tidak boleh ada pelanggaran prinsip keluhuran.
“Maka jangan sampai ada mengganggu keyakinan orang lain,” kata Din dalam sebuah konferensi pers bersama sejumlah tokoh lintas agama di Jakarta, Senin (17/10).
Dia pun memberikan komentar terkait kasus pelecehan Al Quran yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Sikap Ahok yang telah meminta maaf dinilainya sebagai perbuatan yang baik.
Din pun mengimbau agar umat Islam menerima permintaan maaf yang telah dilakukan Ahok. Sebab, memaafkan orang yang bersalah adalah ajaran Islam.
Sementara, terkait kasus hukum yang menyangkut Ahok, Din mengaku pihaknya tak masuk ke wilayah itu. Proses penegakan hukum seharusnya menjadi urusan negara dan lembaga penegak hukum.
“Negara harus segera hadir, kalau tidak, apalagi terlambat hanya akan membawa ke suasana yang lebih buruk lagi,” tandasnya.
Senin, 17 Oktober 2016

Rusia Umumkn Jeda Serangan Delapan Jam di Aleppo



Foto: Seorang bapak dan anak memandangi bangunan yang hancur di Aleppo akibat kebrutalan Rusia dan Suriah [foto: Anadolu Agency]
KIBLAT.NET, Moskow – Militer Rusia mengumumkan jeda serangan di kota Aleppo selama delapan jam untuk memungkinkan masuknya konvoi bantuan.
Kepala departemen Staf Khusus Rusia, Letnan Jenderal Sergey Rudskoy mengatakan bahwa pemboman akan dihentikan antara pukul 08:00 sampai 16:00 waktu setempat.
Dia juga mengatakan, enam koridor kemanusiaan akan dibuka untuk memungkinkan warga sipil yang terluka bisa dievakuasi.
“Kami siap untuk menghentikan kegiatan militer atas permintaan organisasi bantuan kemanusiaan untuk akses tenaga medis dan evakuasi yang terluka dan sakit,” katanya pada Senin (17/10).
Walau begitu, Rudskoy mengaku akan mengesampingkan opsi gencatan senjata yang memungkinkan pasukan oposisi berkumpul di Aleppo timur.
Gencatan senjata pada bulan lalu telah runtuh setelah sejumlah jet rezim Assad dan Rusia menargetkan konvoi bantuan dan warga sipil.
Tidak hanya itu, mereka juga menyasar rumah sakit, tenaga medis dan infrastruktur penting lainnya dengan bom cluster dan senjata kimia.
“Mereka sengaja menargetkan rumah sakit, tenaga medis, sekolah dan infrastruktur penting dengan menggunakan bom cluster serta senjata kimia dan ini merupakan kejahatan perang,” pungkas Dewan Luar Negeri Uni Eropa

Berdalih Cari Pejuang Aqamul Mujahidin Rohingya, Militer Lakukan Pembersihan Etnis


Foto: Pasukan keamanan Myanmar bakar rumah-rumah warga Rohingya dengan alih mencari mujahidin Rohingya.
KIBLAT.NET, Rakhine – Kelompok advokasi Rohingya di seluruh dunia terus mengungkapkan keprihatinan serius atas tindakan represif militer dan polisi di Myanmar barat.
Aparat Myanmar saat ini tengah mencari mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan sembilan polisi. Mereka menuding mujahidin Rohingya yang menjadi pelaku serangan itu.
Sembilan orang terbunuh termasuk delapan orang bersenjata di tiga serangan terpisah di pos-pos polisi di perbatasan Myanmar-Bangladesh di barat negara bagian Rakhine pada 9 Oktober lalu.
Pos-pos polisi yang diserang terletak di Maungdaw dan Yathay Taung. Kedua daerah itu sebagian besar ditempati oleh penduduk Muslim Rohingya, yang dijelaskan oleh PBB sebagai salah satu kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia.
Pada akhir pekan ini, sebuah pernyataan dari kelompok “Selamatkan Rohingya dari Pembantaian” menyatakan bahwa militer dan polisi tanpa pandang bulu kembali membunuhi warga Rohingya, membakar dan menjarah rumah-rumah dan desa mereka, dengan dalih mencari penyerang pos polisi.
“Dua kuburan massal telah ditemukan, yang tak kurang berjumlah sekitar 100 warga sipil termasuk orang-orang tua, wanita dan anak-anak atas pembunuhan ekstra yudisial,” kata kelompok itu.
Pernyataan yang dirilis pada Senin, (17/10) itu menambahkan bahwa setidaknya lima desa Rohingya juga telah dibakar saat pasukan pemerintah mencari pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab.
“Penyerbuan aparat telah menyebabkan banyak warga Rohingya melarikan diri desa mereka. Diperkirakan, sekitar 5.000 warga Rohingya telah mengungsi dan menyebabkan bencana kemanusiaan besar. Ada pemberlakuan jam malam dan blokade, ada kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan akut lainnya. Situasi ini terus memburuk,” tambah kelompok advokasi Rohingya itu.
Kendati demikian, media-media pemerintah Myanmar mengklaim penyerangan 9 Oktober memakan korban tidak lebih dari 33 orang – termasuk empat tentara dan 29 penyerang diduga – telah tewas, termasuk dua perempuan.
Pada tanggal 14 Oktober, pemerintah Myanmar mengatakan bahwa serangan awal pada pos-pos polisi dilakukan oleh organisasi Aqa Mul Mujahidin, yang digambarkan sebagai berafiliasi dengan Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO), sebuah kelompok yang dicap ekstremis oleh rezim junta militer Myanmar.

Hitam di Dahi Ciri Kesholihan?

Asslamukum Warahmatullahi Wa Barakaatuh..
Maaf Ustadz, saya melihat banyak sekali orang-orang Islam yang rajin ke Masjid, rajin mengaji jidat/dahinya ada bekas hitam. Apakah itu tanda kesholihan karena sangking banyaknya bersujud ataukah bagaimana? apakah Rasulullah jidat/dahinya juga hitam?? mohon penjelasannya! ( Abu Aqila, di Jakarta Timur)



Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wa Barakaatuh..
Abu Aqilah yang semoga dijaga selalu oleh Alloh. Apa yang bapak tanyakan sungguh sangat bagus sekali. Jarang sekali yang kristis seperti bapak.
Memang banyak sekali kaum muslimin yang mengira bahwa jidat/dahi hitam adalah tanda kesholihan seseorang. Namun sebenarnya tidak sepenuhnya begitu. Mereka berdali dalam surat Al-Fath : 29 di bawah ini.
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).

Padahal bukan demikian yang dimaksudkan ayat itu. Imam At- Thabari meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.

Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyukan.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
Dan juga dalam riwayat yang lain disebutkan :
عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku? (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).

عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).

عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah?
Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij(baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).

Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.
Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya.
Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.
Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari busurnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).

Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi. wallahu A’lam bis Showab.

Massa Serang Rumah Pemimpin Sekte Syiah Nigeria

Sedikitnya 10 orang terluka ketika massa menyerang rumah seorang tokoh sekte Syiah di negara bagian Kaduna barat laut Nigeria Sabtu, menurut warga di daerah, Anadolu Agency melaporkan Ahad (16/10/2016).

“Krisis dimulai awal hari ini ketika beberapa anggota Syiah mencoba mengibarkan bendera mereka di tempat kediaman pendeta Syiah, Mukhtar Sahabi, yang dibakar Rabu lalu di Tundun Wada. Tapi mereka diserang oleh gerombolan massa membawa parang yang menantang mereka,” Sadu Abubakar, warga daerah, mengatakan kepada Anadolu Agency.
Penduduk setempat mengatakan insiden itu disebabkan meningkatnya kecemasan di daerah, terutama di Ungwan Muazu dan Kinkinau.

Ibrahim Musa, juru bicara gerakan Syiah, mengatakan kepada Anadolu Agency: “Anggota kami diserang hari ini di salah satu pusat gerakan dan rumah salah satu pemimpin kami yang baru-baru ini dibakar; 10 luka berat. Sayangnya, polisi hanya menyaksikan massa menyerang anggota kami.”

Juru bicara polisi Kaduna Aliyu Usman membantah tuduhan bahwa polisi tidak melakukan apa pun untuk mengendalikan situasi. “Kami sedang memantau situasi dan akan menangani pers nanti,” kata Usman.

Rabu lalu, 18 pengikut sekte Syiah tewas dalam serangan terhadap prosesi ritual Asyura di barat laut kota Funtua dan kota Kaduna ; 15 orang dilaporkan tewas akibat tembakan polisi, sementara tiga orang lainnya tewas ketika massa membakar rumah pemimpin Syiah setempat, Sheikh Sahabi. (jurnalislam)