Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Oktober 2016

Sejarah Pembantaian: Tartar & Pembantaian 800.000 Muslim Baghdad

Baghdad, ibukota kekholifahan Dinasti Abbasiyah akhirnya runtuh ! Dengan brutal pasukan Tartar menghancurkan semua sudut kota, menjarah istana, merusak bangunan-bangunan dan sarana umum. Dan yang paling mengerikan adalah dibakarnya jutaan buku, sisanya dihanyutkan ke sungai hingga membuat air sungai berwarna hitam. Hari itu tercatat 800.000 lebih warga Baghdad terbunuh !





Bayangkanlah dahsyatnya kehancuran tsunami yang melanda Aceh dan Jepang silam. Mayat-mayat bergelimpangan. Bangunan, pepohonan, kebun, binatang ternak, sarana umum, semuanya hancur berantakan. Kota yg tadinya ramai mendadak sepi, kelam dan berubah menjadi seperti kota hantu. Seperti itulah yg terjadi dg kota-kota Islam yg terbentang dari Asia Tengah hingga Baghdad ketika dilewati oleh Pasukan Mongol.

Pasukan Mongol mulai melakukan ekspansi ketika berada di bawah pimpinan Temujin yg bergelar Jenghis Khan (Raja Agung). Bertepatan dengan Perang Salib V. Negeri pertama yg mereka serang adalah Khowarizm sekitar tahun 606 H / 1209 M. Kaum muslim yg telah memasuki masa kemunduran dan perpecahan di mana-mana tidak lagi sanggup gelombang serangan brutal pasukan Tartar. Kota demi kota dikuasai. Bukhoro, ibukota Khowarizm, kota Ilmu Pengetahuan yg melahirkan 'ulama-ulama terkenal seperti Imam Bukhori direbut dan diluasai Pasukan Tartar. Masjid-masjid dijadikan kandang kuda, kaum muslimin banyak yg dibunuh dan dijadikan tawanan. 

Perlawanan Sultan Alaudin berhasil dilibas oleh Pasukan Tartar, bahkan beliau tewas pada pertempuran di Mazindaron (1220 M). Pasukan Tartar terus merangsek, menguasa Samarkand, Khurasan (sekarang wilayah Afghonistan, termasuk Naisabur, Maru, Balkh, dan Herat), Farghana dan kota-kota lain di Asia tengah hingga ke perbatasan Baghdad.


Pada tahun 624 H / 1227 M Jenghis Khan mati dan kekuasaannya diwariskan kpd 4 putranya : Juchi, Chagatai, Ogotai dan Toluy. Dari anak terakhirnya inilah, Toluy, kekuasaan Mongol semakin besar, bahkan terbesar dalam sejarah. Mongke, Kubilai, dan Hulago, tiga putra Toluy berhasil memeperluas kekaisaran Mongol. Mongke menetap di Mongol, Kubilai khan pergi ke China dan menguasainya. Di sana dia mendirikan Dinasti Yuan yang pernah mengirim pasukannya ke tanah Jawa. Sedangkan Hulagu pergi bersama pasukannya ke arah Persia.

Pada tahun 1253, dibawah pimpinan Hulagu Khan, pasukan Tartar bergerak dari Mongol untuk membasmi kelompok pembunuh Hasyasyin (assassin) dan menyerang kekholifahan Abbasiyah. Inilah gelombang kedua serangan yg dilakukan bangsa Mongol. Mereka menyapu bersih semua kota yg mereka lewati dan siapapun yg mencoba menghadang perjalanan mereka. Mereka serbu semua kerajaan kecil yg berusaha tumbuh di atas puing-puing dinasti Syah Khowarizm. 

Hulagu mengundang Kholifah Al-Mu'tashim (1242-1258) untuk bekerja sama menghancurkan kelompok Hasyasyin Ismailiyah. Tetapi undangan tsb tidak mendapatkan respon. Pada tahun 1256 pasukan Hulagu berhasil menghancurkan sebagian besar benteng kelompok Hasyasyin, termasuk benteng terbesar mereka di Alamut. Kelompok Hasyasyin akhirnya hancur lebur, bahkan tragisnya bayi-bayi mereka disembelih dengan kejam.

Tidak berhenti sampai di situ, Pasukan Hulagu terus merangsek hingga Khurosan, di sana dia mengirim surat ultimatum kpd Kholifah Abbasiyah di baghdad. Namun Kholifah tidak menjawabnya. 

Sebelumnya, di ibukota kekholifahan Abbasiyah, Baghdad, seorang syi'ah bernama Ibnu Al-'Alqomi telah melakukan pelemahan secara sistematis pada kemiliteran khilafah. Dia mengurangi jumlah tentara hingga tinggal hanya beberapa ribu saja. Dan ketika Pasukan Mongol tiba, dia membujuk Kholfah Mu'tashim untuk menemui Hulagu dalam upaya membuat perjanjian damai. Sampai di sana, bukan perdamaian yg mereka terima, namun mereka justru disembelih satu persatu. Termasuk Ibnu Al-'Alqomi sang pengkhianat.

Dengan terbunuhnya Kholifah Al-Mu'tashim, maka berakhirlah masa kekuasaan Dinasti abbasiyah. Kota Baghdad yang menjadi pusat peradaban dunia kala itu, dg bangunan-bangunan megahnya, masjid-masjid yg indah, Istana mewah, dan perpustakaan besar dibumihanguskan oleh pasukan tartar. Istana dijarah, masjid dan sarana umum lainnya dibakar. Perpustakaan dihancurleburkan. Sejarah peradaban dunia mencatat kebiadaban tersebut. Jutaan buku dibakar. Sisanya dihanyutkan ke sungai Eufrat hingga air sungai berwrna hitam oleh tinta-nya para 'ulama bersamaan dg lunturnya nilai peradaban dan Ilmu Pengetahuan. Sebuah kerusakan yg selamanya tak akan tergantikan.

Warga Baghdad Kocar-kacir tak karuan. Mereka bersembunyi, dikejar dan dibantai tanpa belas kasihan. Sejarah mencatat, 800.000 lebih warga Baghdad terbunuh !

Jangan anda bayangkan kehidupan di Baghdad saat itu seperti kehidupan sekarang ini yg padat. Ini terjadi 7 abad yg lalu ketika kota-kota masih lengang dg tehnologi persenjataan yg masih alakadarnya. Namun begitu, Hampir satu juta manusia meregang nyawa!.

Walaupun Baghdad sudah dibumihanguskan, Hulagu Khan menetap selama 2 tahun untuk memantapkan kekuasaannya sebelum kemudian melanjutkan ekspansi, menyebrangi sunga Eufrat menuju ke Syiria melintasi Gurun Sinai, Mesir. Pada tahun 1260 mereka berhasil menduduki Nablus dan Gaza. Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta Sultan Qutuz yg menjadi Raja kerajaan Mamalik, untuk menyerah. Permintaan tsb ditolak bahkan utusan Kitbugha dibunuhnya.


Pada awalnya penduduk mesir merasa gentar dengan ancaman pasukan tartar. Kebengisan dan Kebrutalan mereka membuat mental Ummat Islam runtuh. Namun Alloh Swt telah berjanji untuk menjaga rislah Dien ini dan menolong hamba-hambanya yg sholih, lewat pemikiran para 'ulama dan keberanian 'umaro, terutama pemimpin Dinasti mamalik pada saat itu, Saifuddin Quthz, Ummat Islam kembali bangkit. Dibawah komando Saifuddin Quthz dan komandan Baybars, kaum muslimin sepakat untuk menyongsong pasukan Mongol di 'Ain Jalut sebelum mereka memasuki mesir. Pertempuran dahsyat terjadi tepat pada bulan romadhon 658 H / 3 september 1260 M. 

Dengan kesabaran dan tekad baja akhirnya kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Mongol. Pasukan Mongol yang selama puluhan tahun tak terkalahkan ini harus hancur dibawah gempuran pasukan saifuddin Quthz. Kathbugho, pemimpin pasukan tartar terbunuh dengan kepala terpenggal yg diarak keliling kota.

(untuk lebih lengkapnya, silakan baca buku-buku lain yg membahas tentang ini. Seperti Kitab Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir. Atau sebagai pembanding, silakan sampeyan baca buku History of The Arabs)
Rabu, 19 Oktober 2016

Sejarah Pembantaian: Kekejaman Pasukan Salib Terhadap Umat Islam

Gambar Ilustrasi Perang Salib

Ketika orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim hidup bersama dalam damai, sang Paus memutuskan untuk mempersiapkan perang Salib. Mengikuti seruan Paus Urbanus II pada 27 November 1095 di Dewan Clermont, lebih dari 100.000 orang Eropa bergerak ke Palestina untuk "membebaskan" tanah suci dari orang Islam dan mencari kekayaan di Timur. Pada 50 tahun pertama, Pasukan Salib berhasil mendominasi peperangan. Kekuatan kaum Muslim porak-poranda. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syria dan Palestina ditaklukkan. Ratusan ribu kaum Muslim dibantai.
Pada tahun 1098, tentara Salib itu juga telah membunuh ratusan ribu kaum Muslim di Marra’tun Noman, salah satu kota terpadat di Syria. Paus Urbanus II menyebut musuh kaum Kristen sebagai “The Seljuq Turks”. “Seljuk Turks”, kata Paus, adalah bangsa bar-bar dari Asia Tengah yang baru saja menjadi muslim. Bangsa ini telah menaklukkan sebagian wilayah kekaisaran imperium Kristen Bizantium.

Paus mendesak agar para ksatria Eropa menghentikan pertikaian antara mereka dan memusatkan perhatian bersama, untuk memerangi musuh Tuhan. Bahkan, kata Paus, bangsa Turki itu adalah bangsa terkutuk dan jauh dari Tuhan. Maka, Paus menyerukan, “Membunuh monster tak ber-Tuhan seperti itu adalah suatu tindakan suci; adalah suatu kewajiban Kristiani untuk memusnahkan bangsa jahat itu dari wilayah kita.”
Mereka mencapai Yerusalem pada tahun 1099. Kota ini jatuh setelah pengepungan hampir 5 minggu. Ketika Tentara Perang Salib masuk ke dalam, mereka melakukan pembantaian kejam. Seluruh orang Islam dan Yahudi dibabat dengan pedang.

Dalam perkataan seorang sejarawan: "Mereka membunuh semua orang Saracen dan Turki yang mereka temui. pria maupun wanita."
Di Masjid al-Aqsha terdapat genangan darah setinggi mata kaki, karena banyaknya kaum Muslim yang dibantai. Fulcher of Chartress menyatakan, bahwa darah begitu banyak tertumpah, sehingga membanjir setinggi mata kaki:
“If you had been there your feet would have been stained to the ankles in the blood of the slain.”
Seorang tentara Salib menulis dalam Gesta Francorum, bagaimana perlakuan tentara Salib terhadap kaum Muslim dan penduduk Yerusalem lainnya, dengan menyatakan, bahwa belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid dan hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah mereka yang dibantai:
“No one has ever seen or heard of such a slaughter of pagans, for they were burned on pyres like pyramid, and no one save God alone knows how many there were.” 
Salah satu tentara Perang Salib, Raymond dari Aguiles, membanggakan kekejian ini:

Pemandangan mengagumkan terlihat. Sebagian orang kami (dan ini lebih belas kasih) memenggal kepala musuh-musuh mereka; lainnya membidik mereka dengan panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkan mereka ke dalam nyala api. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami perlu berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil dibandingkan dengan apa yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat di mana ibadah keagamaan biasanya disenandungkan. di kuil dan serambi Sulaiman, para pria bergerak dalam [kubangan] darah hingga lutut dan tali kekang mereka.

Dalam dua hari, tentara Perang Salib membunuh sekitar 40.000 orang Islam secara biadab seperti yang digambarkan. Kedamaian dan kerukunan di Palestina, yang telah berlangsung semenjak Umar, berakhir dengan sebuah pembantaian mengerikan.

Tentara Perang Salib menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota mereka, dan mendirikan Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. Namun pemerintahan mereka berumur pendek, karena Salahuddin mengumpulkan seluruh kerajaan Islam di bawah benderanya dalam suatu perang suci dan mengalahkan tentara Perang Salib dalam pertempuran Hattin pada tahun 1187. Setelah pertempuran ini, dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Salahuddin. Beliau menghukum mati Reynald dari Chatillon, yang terkenal keji karena kekejamannya yang mengerikan yang ia lakukan kepada orang-orang Islam, namun membiarkan Raya Guy pergi, karena ia tidak melakukan kejahatan serupa. Palestina sekali lagi menyaksikan arti keadilan yang sebenarnya.

Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, dan pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem untuk perjalanan mikrajnya ke langit, Salahuddin memasuki Yerusalem dan membebaskannya dari 88 tahun pendudukan tentara Perang Salib. Bertolak belakang dengan "pembebasan" oleh tentara Perang Salib, Salahuddin tidak mendzalimi seorang Nasrani pun di kota tersebut, sehingga menyingkirkan rasa takut mereka bahwa mereka semua akan dibantai. Ia hanya memerintahkan semua umat Nasrani Latin (Katolik) untuk meninggalkan Yerusalem. Umat Nasrani Ortodoks, yang bukan tentara Perang Salib, dibiarkan tinggal dan beribadah menurut yang mereka pilih.

Karen Armstrong menggambarkan penaklukan kedua atas Yerusalem ini dengan kata-kata berikut ini:

Pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menepati janjinya, dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Dia tidak membalas dendam pembantaian tahun 1099, seperti yang Al Qur'an anjurkan (Q.S. 16:127), dan sekarang, permusuhan telah berakhir, ia menghentikan pembunuhan (Q.S. 2:193-194). Tak ada satu orang Kristen pun dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Salahuddin menangis terharu karena kesedihan keluarga-keluarga yang terpecah-belah dan ia membebaskan banyak dari mereka tanpa tebusan, sesuai himbauan Al Qur'an, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawannya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al Adil, begitu tertekan karena penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin seribu orang dari mereka untuk dibebaskan di tempat itu juga. Semua pemimpin Muslim dibuat geram melihat orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan kekayaan mereka, yang semestinya dapat digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain dan bahkan diberi pengawalan khusus untuk menjaga keamanan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre.

Pendeknya, Salahuddin dan tentaranya memperlakukan orang-orang Nasrani dengan kasih sayang dan keadilan yang agung, dan menunjukkan kepada mereka kasih sayang yang lebih dibanding yang telah diperlihatkan oleh pemimpin mereka.

Setelah Yerusalem, tentara Perang Salib melanjutkan kebiadaban mereka dan orang-orang Islam meneruskan keadilannya di kota-kota Palestina lainnya. Pada tahun 1194, Richard Si Hati Singa, yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan menghukum mati 3.000 orang Islam, di antaranya banyak wanita dan anak-anak, secara tak berkeadilan di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama. Mereka malah tunduk kepada perintah Allah:
"Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka)." (Q.S. 5:2)
Orang-orang Islam juga tidak pernah melakukan kekejaman kepada orang-orang sipil tak bersalah. Di samping itu, mereka tidak pernah menggunakan kekerasan yang tidak perlu, bahkan kepada tentara Perang Salib yang terkalahkan sekalipun.

Kekejaman tentara Perang Salib dan keadilan orang-orang Islam sekali lagi mengungkapkan kebenaran sejarah: Sebuah pemerintahan yang dibangun di atas dasar-dasar Islam memungkinkan orang-orang dari keyakinan berbeda untuk hidup bersama. Kenyataan ini terus diperlihatkan selama 800 tahun setelah Salahuddin, khususnya selama masa Khalifah Utsmaniyyah.
----------------------------------

Pustaka
  1. "Gesta Francorum, or the Deeds of the Franks and the Other Pilgrims to Jerusalem," trans. Rosalind Hill, (London: 1962), hlm. 91. tanda penegasan ditambahkan
  2. August C. Krey, The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Participants (Princeton & London: 1921), hlm. 261. tanda penegasan ditambahkan
  3. Krey, The First Crusade, hlm. 262.
  4. Armstrong, Holy War, hlm. 185. tanda penegasan ditambahkan.
  5. David R. Blanks and Michael Frassetto (ed) Western Views of Islam in Medieval and Eearly Modern Europe, (New York, St. Martin’s Press, 1999), hal. 62-63.]
  6. Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, Adian Husaini (GIP, Jakarta : 2006), hal. 4
Senin, 17 Oktober 2016

Sejarah Pembantaian: Kekejaman Atas Muslim Bosnia

DIMANA Anda pada tahun 1992 dan 1995? Di bangku kuliah ataukah masih SMA? Di Bosnia-Herzegovina, salah satu negara kecil di Semenanjung Balkan, Eropa bagian Tenggara, Muslim Bosnia tengah dibantai. Jumlahnya, menurut catatan mencapai antara 100.000 sampai 200.000 orang! Jumlah yang sangat banyak, dan itu adalah jumlah pembantaian terbanyak setelah Perang Dunia II.

Luas wilayah Bosnia hanya 51.233 km persegi (sedikit lebih luas dari Propinsi Jawa Timur). Islam masuk ke kawasan Balkan (termasuk Bosnia) sekitar tahun 1389, ketika wilayah Balkan ada di bawah kekuasaan Turki Utsmani antara abad XII hingga akhir abad XIX.
Pada tahun 1918, Bosnia menjadi wilayah Yugoslavia. Akhir Perang Dunia ke II menempatkan rezim komunis di puncak kekuasaan Yugoslavia. Mulai saat itulah umat Islam Bosnia mengalami sekularisasi yang kuat, hingga sebagian besar kaum muslimin Bosnia melupakan agamanya meskipun masih mengaku beragama Islam.

Keruntuhan komunis di Uni Soviet membawa efek yang serupa pada Yugoslavia yang merupakan negara satelit Uni Soviet. Runtuhnya sistem komunis pada akhir 1988 menyebabkan Yugoslavia terpecah menjadi enam negara, yaitu Serbia, Kroasia, Bosnia, Macedonia, Slovenia dan Montenegro.

Awalnya, Slovenia dan Kroasia menyatakan memisahkan diri dari Y ugoslavia dan menjadi negara berdaulat. Selepas itu, Yugoslavia menjadi negara yang senantiasa berubah, baik wilayahnya maupun populasinya. Menyusul Slovenia dan Kroasia, Bosnia melalui referendum tahun 1992 pun menyatakan pemisahan diri dari Yugoslavia dan menjadi negara berdaulat dipimpin Presiden Alija Izatbigovic. Inilah yang memicu pembantaian rakyat Muslim Bosnia oleh bangsa Serbia pimpinan Slobodan Milosevic pada 1992.

Serbia berupaya mempertahankan kesatuan Yugoslavia. Etnis Serbia yang umumnya bergama Kristen Ortodox ini ingin mendominasi pemerintahan, militer dan administrasi negara. Di Serbia terdapat sekitar 6 juta etnis Serbia, sedangkan di Bosnia 1,36 juta jiwa dan di Kroasia 0,5 juta jiwa. Milosevic berobsesi mewujudkan Negara Serbia Raya yang bersifat monoetnis, maka ia menentang habis-habisan berdirinya Bosnia Herzegovina yang mayoritas Muslim dengan melakukan pembersihan etnis non-Serbia dan merebut wilayah dari Bosnia dan Kroasia.
Negara Bosnia yang dideklarasikan pada tahun 1992 merupakan negara multi etnis berpenduduk 4,3 juta jiwa, dengan komposisi 43,7% etnis Bosnia (90% muslim), 31,3% etnis Serbia/Serbia- Bosnia (93% beragama Kristen Ortodox), 17,3% etnis Kroasia/Kroasia-Bosnia (88% beragama Katolik Roma) dan etnis lainnya 5,5%.

Awal Perang
Pada awal terjadinya perang di tahun 1992, warga negara Bosnia yang terdiri atas etnis Bosnia dan etnis Kroasia bersama-sama menghadapi serangan tentara Serbia. Namun ketika keadaan Bosnia mencapai titik kritis, dimana sekitar 70% wilayah Bosnia direbut oleh Serbia, etnis Kroasia di Bosnia dibantu Negara Kroasia berkhianat dan berusaha merebut wilayah Bosnia yang tersisa (30%). Akibatnya Kroasia berhasil menguasai 20% wilayah Bosnia, sementara warga muslim Bosnia hanya menguasai 10% wilayahnya.

Tindakan ini menjadikan muslim Bosnia terjepit oleh serangan dua musuh sekaligus. Ironisnya, dalam keadaan seperti ini PBB dan negara-negara Barat bersikeras mempertahankan embargo senjata pada muslim Bosnia. Mereka menutup mata terhadap pembantaian besar-besaran yang terjadi di depan mata mereka.

Dalam langkah majunya menguasai wilayah Bosnia, pasukan Serbia melakukan pembantaian massal pada muslim Bosnia. Mereka yang beruntung masih hidup dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Sejarah mencatat perang ini ditandai dengan pemerkosaan terhadap para wanita Islam dilakukan secara massal dan sistematis. Bayi-bayi hasil perkosaan tentara Serbia akan dianggap warga etnis Serbia. Dengan demikian, kelak Serbia dapat mengklaim sebagai etnis mayoritas di wilayah-wilayah yang didudukinya. Serangan Serbia (yang kemudian dibantu oleh Kroasia) terhadap muslim Bosni a telah menyebabkan tragedi kemanusiaan yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia kedua.

Lahirnya Mujahidin Generasi Baru
Pecahnya perang di Bosnia tidak luput dari perhatian para mujahidin yang baru saja berhasil menjatuhkan pemerintahan komunis di Kabul. Lima orang mujahidin dari Afghanistan segera bertolak ke Bosnia mengecek kondisi yang sebenarnya. Salah satu dari mereka adalah Syeikh Abu Abdul Aziz. Beliau adalah salah satu pemuda yang sejak awal bergabung dalam jihad Afghan karena seruan Syeikh Abdullah Azzam, semoga Allah menerima syahid beliau. Temuan para utusan tersebut di lapangan membenarkan terjadinya pembantaian terhadap kaum muslimin di Bosnia.

Maka mulailah para mujahidin dari seluruh dunia mengalir masuk ke Bosnia. Mereka ditempatkan dalam satu batalion yang khusus terdiri atas mujahidin non Bosnia. Mereka datang dari seluruh dunia, bahkan sebenarnya para mujahid Arab adalah minoritas, menurut Syeikh Abu Abdul Aziz. Batalion itu dinamai Katibat al-Mujahidin (Batalion Mujahidin), atau Odred El-Mudzahidin dalam bahasa Bosnia. Batalion tersebut merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata Bosnia, yaitu Batali on ke-Tujuh (SEDMI KORPUS, ARMIJA REPUBLIKE BH) Angkatan Darat Bosnia.

Krisis yang terjadi akibat serangan Serbia dan Kroasia, ditambah kehadiran para mujahidin asing yang ikhlas mengingatkan rakyat Bosnia akan agama yang telah mereka tinggalkan selama ini. Semangat muslim Bosnia untuk kembali pada Islam semakin besar. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah. Jilbab semakin banyak dikenakan para muslimah Bosnia.Majelis-majelis ilmu dan tahfiz Qur’an mulai bermunculan kembali.

Dengan pertolongan Allah, melalui perjuangan rakyat Bosnia dan mujahidin asing, lambat laun keadaan mulai berubah. Kepada tentara muslim Bosnia, mujahidin asing berbagi taktik dan strategi untuk mengalahkan musuh yang memiliki persenjataan yang lebih kuat, hasil pengalaman perang sebelas tahun di Afghanistan. Angkatan Bersenjata Bosnia dan mujahidin asing tidak lagi bertahan. Mereka melancarkan berbagai operasi penyerangan untuk merebut daerah-daerah strategis di Bosnia. Daerah-daerah yang dikuasai oleh pasukan Serbia, satu per satu berhasil direbut kembali.

Khawatir dengan tekanan balik dari pasukan muslim, negara-negara Barat segera mensponsori perundingan damai. Berbagai bentuk tekanan diberikan kepada ketiga pihak yang bertikai, agar mereka dapat menghentikan perang dan berunding. Pada tahun 1994 Kroasia menandatangani perjanjian damai dengan Bosnia dan bersama-sama mendirikan Federasi Bosnia.

Saat muslim Bosnia berhasil menguasai kembali 51% wilayahnya, di bawah tekanan politik negara-negara Barat dan krisis ekonomi yang mencekik, pemerintah Bosnia terpaksa menandatanganiPerjanjian Dayton di Paris pada Desember 1995. Wilayah Bosnia dipecah menjadi dua negara bagian, yaitu Federasi Bosnia (berisikan warga etnis Bosnia dan Kroasia) dengan luas wilayah 51% dan Republik Serbska (berisikan warga etnis Serbia) dengan luas wilayah 49%.
Maka berakhirlah perang yang telah membawa begitu banyak korban : diperkirakan antara 100.000 hingga 200.000 ribu orang telah tewas (sekitar 69% korban tewas adalah muslim Bosnia), lebih dari 40.000 wanita diperkosa, dan 1,8 juta orang terpaksa mengungsi.
Sudah menjadi kebiasaan para mujahidin untuk menggunakan nama julukan selama melakukan jihad. Hal ini diperlukan untuk melindungi identitas mereka (juga keluarga mereka) dari rezim-rezim thaghut yang menguasai negeri-negeri Islam saat ini, dan untuk menghindari penangkapan ketika melakukan perjalanan keluar masuk medan jihad. Oleh karena itu, banyak dari syuhada pada buku ini dipanggil berdasarkan nama julukan mereka (Abu Ali, Abu Bakar, dll). 

Sejarah Pembantaian: Kekejaman Terhadap Umat Islam Spanyol

Jatuhnya Granada ke tangan Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella I dari Castilla pada tanggal 2 Rabi’ul Awal tahun 897 H (2 Januari 1492 M) merupakan akhir dari kekuasaan Islam di wilayah Andalusia di Iberia. Sejak hari itu pula, umat Islam yang masih tinggal di wilayah Andalusia ditindas dan ditekan.

Kekejaman Inkuisisi Spanyol
Enam puluh tujuh (67) pasal dalam Perjanjian Granada yang diantaranya meliputi jaminan keselamatan jiwa, agama, dan harta benda, jaminan untuk kehormatan, pemikiran, dan kebebasan, serta jaminan-jaminan lain yang intinya adalah jaminan untuk menjalankan keyakinan dan agama Islam ternyata tak lama ditaati oleh kaum Kristen. Atas pengaruh gereja, penguasa Andalusia segera mengingkari perjanjian damai tak lama setelah menguasai negeri itu. Orang-orang Yahudi kemudian diusir keluar dari Spanyol. Kaum Muslimin dipaksa masuk Kristen, atau terpaksa hijrah keluar dari Spanyol. Mereka memberontak, tapi pada akhirnya dikalahkan. Banyak dari orang-orang Islam ini akhirnya setuju untuk dibaptis.

Sekira 10 tahun setelah Perjanjian Granada, penguasa Kristen di Andalusia (Ferdinand dan Isabella) mengeluarkan beberapa Dekrit yang menekan umat Islam. Diantara beberapa dekrit itu antara lain:


  1. Pada hari Selasa, tanggal 20 Juli 1501 M (4 Muharram 907 H), Raja mengeluarkan Dekrit yang isinya melarang umat Islam berada di wilayah kerajaan Granada. Perintah dua Raja (Ferdinand II dan Isabella I) itu atas perintah tuhannya untuk mebersihkan daerah itu dari orang-orang ‘kafir’. Dengan catatan bahwa mereka yang mau merubah agamanya boleh menetap. Dan yang sudah Kristen dilarang melakukan hubungan apapun lagi dengan Islam. Bagi mereka yang menentang peraturan ini akan diganjar hukuman mati dan seluruh harta bendanya dirampas.
  2. Pada hari Selasa, tanggal 12 Februari 1502 M (13 Ramadhan 908 H), Raja mengeluarkan peraturan bagi setiap muslim pria, minimal berusia 15 tahun dan wanita usia 12 tahun, untuk meninggalkan Granada sebelum awal Mei tahun itu juga. Bagi yang ingin keluar dari wilayah ini diizinkan bila dengan beaya sendiri. Asal tidak menuju Afrika Utara karena saat itu Afrika Utara masih terlibat perang dengan Spanyol. Barangsiapa yang menentang peraturan ini diganjar hukuman mati, penjara, atau dijadikan budak belian dengan dirantai kakinya. Keluarnya peraturan ini dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Mereka, orang-orang yang pura-pura memeluk Kristen, menjual hartanya lalu melarikan diri ke Afrika. Melihat gejala ini, maka kemudian penguasa Kristen pun mengeluarkan peraturan baru, yaitu:
  3. Pada tanggal 12 September 1502 M (19 Rabiul Awal 909 H), Raja mengeluarkan peraturan yang isinya melarang kaum muslimin menjual harta bendanya sebelum dua tahun. Mereka hanya diperbolehkan meninggalkan Castilla dan mengungsi ke Aragon atau Portugis.

Merasa masih belum cukup dengan dekrit-dekrit yang dibuat, penguasa Kristen kemudian mendirikan mahkamah-mahkamah di banyak tempat. Mahkamah-mahkamah ini memiliki wewenang yang sangat kejam. Diantara kewenangannya, mahkamah berhak merampas seluruh harta, menghancurkan kehormatan, dan menghina umat Islam. Dengan sewenang-wenang, mahkamah-mahkamah itu menjatuhkan vonis dengan memasukkan sejumlah kaum muslimin ke penjara bawah tanah yang di dalamnya dilangsungkan penyiksaan yang sangat kejam.

Untuk menegakkan aturan-aturan itu, dibentuklah semacam polisi khusus yang bertugas mencari-cari orang-orang yang bukan Katholik. Diantara contoh-contoh tindakan mereka antara lain:

Kardinal Kamnis atau Don Alfonso Manrique menasranikan secara paksa puluhan ribu umat Islam dan Yahudi. Setidaknya, lebih dari lima puluh ribu kaum muslimin berhasil dipaksanya untuk menjadi Katolik dalam sektenya. Kardinal itu menangkapi kaum muslimin (dan Yahudi) dan memasukkannya ke dalam mahkamah pengadilan yang selalu siap dengan siksaan-siksaan.

Karir keuskupan Alfonso Manrique dimulai saat ia menjadi Uskup Badajoz mulai September 1499 sampai sebelum 1516. Kemudian ia diangkat menjadi Uskup Cordoba mulai Agustus 1516-1523, dan selanjutnya menjadi Uskup Agung Sevilla (Agustus 1523). Pada tahun itu juga ia ditunjuk sebagai salah satu orang yang duduk dalam Dewan Inkuisisi. Kematian Alfonso Manrique berakhir dengan cara yang terhina. Ia meninggal pada tanggal 28 September 1538 di Sevilla akibat terjatuh dari kuda.

Bagi Alfonso, yang dimaksud orang-orang kafir adalah orang-orang yang tidak memeluk Katolik yaitu: umat Islam, Yahudi, Kristen aliran Marthin Luther, pemikir-pemikir bebas, dan lain-lain. Mereka inilah yag terus menerus dikejar-kejar, disiksa, dan dibakar.

Setiap muslim yang sudah menjadi Katolik tidak boleh lagi memuji agama Muhammad SAW. Mereka tidak boleh menyebut Isa al Masih adalah utusan Allah. Tidak boleh menyebut bahwa Isa bukan Tuhan. Mahkamah juga mewajibkan tiap pemeluk Katolik itu untuk menyampaikan keberatan mereka terhadap semua adat istiadat Islam. Mereka harus menegur orang-orang Islam yang telah memeluk Katolik secara paksa itu untuk tidak lagi memakai tradisi Islam. Secara tegas, tidak boleh lagi memakai pakaian terbaiknya pada hari Jumat. Dilarang menghadap ke Timur (ke Ka’bah) untuk shalat. Diharamkan membaca atau mengucap bismillahirrahmanirrahim. Begitu pula tidak boleh mengucapkan basmalah ketika menyembelih ternak.

Orang-orang yang menolak makan daging yang tidak disembelih, akan diintai. Mereka harus makan mau makan daging sembelihan tangan wanita. Mengkhitankan anak juga tergolong sebagai pelanggaran berat. Intinya, semua pola hidup Islami tak boleh sedikitpun dipraktekkan lagi.

Akibatnya, orang-orang Islam yang secara dzahir beragama Katolik itu berusaha semaksimalnya untuk sangat berhati-hati dalam menjalankan ritual-ritual Islam mereka. Mereka sangat hati-hati dalam berwudhu dan menunaikan shalat. Ketika datang bulan Ramadhan, mereka juga tidak bisa menjalankan puasa kecuali beberapa hari saja karena mereka takut ketahuan mahkamah dan para Polisi Khusus. Bahkan sekedar melafalkan kalimat-kalimat tayyibah saja mereka berusaha dengan sangat untuk tidak mengatakannya kecuali di tempat yang sembunyi.

Anak-anak kecil yang lelaki maupun perempuan diasramakan di sekolah-sekolah Katolik dan gereja. Tujuannya agar anak-anak tersebut jauh dan asing dari keislaman dan bahasa Arab.

Selanjutnya, Paus mencabut perjanjian yang semula isinya tidak boleh mengganggu umat Islam dan pada tanggal 12 Maret 1524 M, Paus mengeluarkan aturan yang isinya menghimbau Dewan Inkuisisi untuk memaksa umat Islam memeluk Katolik secara total. Bagi yang menolak akan dijadikan budak belian. Paus juga memerintahkan agar semua masjid dijadikan gereja.

Singkat kata, kaum muslimin di Andalusia saat itu benar-benar dipaksa hidup di bawah penindasan dan ancaman. Identitas keislaman dan ke-Arab-an mereka dihapus secara sistematis sampai benar-benar hilang tiada sisa. [mzf/md]