Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Oktober 2016

Warga Poso tuntut Ahok


Poso – Ribuan kaum muslimin Kota Poso mengikuti aksi turun ke jalan pada Jumat (21/10/2016). Kaum muslimin berdatangan dari berbagai daerah, tak hanya dari Kota Poso dan Poso Pesisir, mereka juga berdatangan dari beberapa kecamatan lain seperti Kecamatan Malei Tojo  serta desa Malino Kecamatan Morowali.

Aksi besar-besaran kali ini menindaklanjuti hasil musyawarah yang dihadiri berbagai komponen umat Islam Poso pada Rabu (19/10/2016). Umat Islam sepakat menggelar aksi sebagai bentuk penolakan Ahok yang menistakan Al-Qur’an beberapa hari yang lalu di Kepulauan Seribu Jakarta.

Dimpin oleh koordinator aksi dari DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) FPI Kabupaten Poso Ustadz Sugianto Kaimudin, ribuan warga Poso yang turun kejalan melakukan aksi ini dengan berjalan kaki menuju Mapolres Poso untuk menyampaikan pernyataan sikap. Massa kemudian menuju gedung DPRD Kabupaten Poso dengan jalan kaki untuk menyampaikan aspirasinya.

Aksi dimulai setelah shalat Jumat sekitar pukul 13.00 Wita. Dari pantauan di lokasi, gelombang pengunjuk rasa mulai berdatangan dari berbagai penjuru Poso. Di Masjid Agung Baiturrahman (Masjid Raya ) Poso, para pengunjuk rasa memulai aksi dengan mendengarkan orasi dari ketua MUI Kabupaten Poso dan dari beberapa tokoh dan pimpinan ormas islam Kabupaten Poso.

Dalam orasinya ketua MUI  (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Poso menyampaikan bahwa saat ini umat islam yang telah mengimani kebenaran Al Quran di manapun berada  khususnya di Kabupaten Poso marah besar, atas apa yang dilakukan Ahok yang telah menghina Al Qur’an Surat Al Maidah Ayat 5. Oleh karena itu sebagai bentuk tanggung jawab sebagai umat Islam wajib membela agama Allah sampai tetes darah penghabisan.

“Pada siang menjelang sore hari ini suluruh umat Islam turut bersama-sama turun kejalan dalam rangka membela agama Allah membela dienul islam dan mengecam Ahok yang melecehkan surat Al Maidah ayat 51 oleh karena kami seluruh komponen umat islam Kabupaten Poso termasuk saya sebagai ketua MUI Kabupaten Poso bertanggung jawab aksi pada siang hari ini apapun yang terjadi.” Demikian tegas ketua MUI Kabupaten Poso KH. Arifin Tuamaka, S.Ag dalam orasinya di depan gedung DPRD Poso.

Selanjutnya KH. Arifin Tuamaka menghimbau kepada para anggota dan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupten Poso agar menyampaikan aspirasi umat islam Kabupaten Poso karena hukum harus ditegakkan tampa pandang bulu sekalipun itu Ahok gubernur Jakarta.

“Apapun jabatan Ahok adalah negara adalah negara hukum oleh karena itu agar ketua DPRD Poso dapat menyampaikan aspirasi kami umat islam Poso agar Ahok segera ditangkap, negara kita adalah negara hukum negara kita adalah negara hukum jangan sampai kita menginjak-injak hukum di negara ini. Ini adalah perbuatan Ahok,” tegas Tuamaka.

Di gedung DPRD kabupaten Poso perwakilan dari masing-masing komponen Umat Islam diterima oleh Suharto Kandar selaku Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Poso bersama beberapa orang anggota DPRD lainya. Suharto Kandar berjanji akan segera menyampaikan aspirasi dan tuntutan warga Poso.
Setelah menyampaikan aspirasinya massa kembali memblokade jalur trans sulawesi tepatnya di lampu merah perempatan Universitas Sintuwu Maroso, para orator kembali menyuarakan tuntutan dan mengancam akan turun kejalan dengan jumlah massa yang lebih banyak jika dalam waktu sepekan Ahok belum ditangkap.

“Hari ini kita berjuang membela agama Allah, pernyataan sikap kita sudah sampaikan ke Polres dan DPRD namun jika sampai sepekan Ahok belum juga ditangkap kita akan turun kembali dengan jumlah yang lebih besar. Bawa anak istri kita, ajak umat islam lain dan pertanyakan keimanan mereka jika tidak mau membela agama Allah. Allahu Akbar… Allahu Akbar..” teriak Ustadz Sugaianto Kaimudin Ketua FPI Poso.

Akhirnya, pukul 16.00 wita, massa kembali ke Masjid Raya Poso aksi berakahir dan warga satu persatu mulai membubarkan diri dengan tertib dan aman.

Reporter: Ahmad Sutedjo
Editor: Hunef Ibrahim
Rabu, 19 Oktober 2016

Pejuang Suriah Tolak Keluar Dari Alepo

Aleppo – Faksi-faksi bersenjata oposisi Suriah, Selasa (18/10), menegaskan menolak penarikan pejuang dari faksi manapun dari Aleppo. Sikap ini ditegaskan setelah Rusia mengumumkan menghentikan sementara serangan udara di Aleppo dengan maksud faksi-faksi yang dianggap moderat memisahkan diri atau mengusir Jabhah Fath Al-Syam dari Aleppo.

“Faksi-faksi menolak keluar atau menyerah,” tegas Zakaria Mulahafji, Kepala Biro Politik faksi Tajammuk Fastaqim yang bermarkas di Aleppo.

Pada bagiannya, seorang Komandan Ahrar Al-Syam, Al-Faruq Abu Bakar, menegaskan bahwa faksi-faksi pejuang akan melanjutkan pertempuran. Di Aleppo, lanjutnya, tidak ada satupun teroris. Mereka (faksi-faksi pejuang) akan terus mengangkat senjata untuk melindungi warga dan sampai rezim tumbang.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu , Senin lalu, mengumumkan jeda serangan udara terhadap wilayah oposisi di Aleppo selama beberapa jam. Penghentian serangan ini, katanya, untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk.

Para ahli juga akan menggelar pertemuan untuk menyusun strategi memisahkan faksi-faksi oposisi dengan faksi yang dianggap teroris di Aleppo. Pertemuan ini, kata Shoigu, akan digelar di Jenewa Rabu ini.

Di sisi lain, PBB menegaskan pihaknya tidak mendapat jaminan kemanan dari gencatan sementara Rusia itu. Tidak mungkin melakukan bantuan kemanusiaan di wilayah yang paling bergolak tersebut sementara senjata-senjata masih mengincar.
Selasa, 18 Oktober 2016

Din Syamsudin: Jika Negara Tak Hadir dalam Kasus Ahok, Suasana akan Lebih Buruk

Foto: Din Syamsudin
Jakarta – Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin memperingatkan agar tidak pihak ada yang mengganggu keyakinan orang lain. Dia pun meminta negara hadir menyelesaikan kasus Ahok, agar suasana tidak berubah jadi lebih buruk.
Menurut pria yang juga mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, kerukunan beragama sangat diperlukan dalam membangun Indonesia. Karenanya, toleransi harus selalu dikedepankan dan tidak boleh ada pelanggaran prinsip keluhuran.
“Maka jangan sampai ada mengganggu keyakinan orang lain,” kata Din dalam sebuah konferensi pers bersama sejumlah tokoh lintas agama di Jakarta, Senin (17/10).
Dia pun memberikan komentar terkait kasus pelecehan Al Quran yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Sikap Ahok yang telah meminta maaf dinilainya sebagai perbuatan yang baik.
Din pun mengimbau agar umat Islam menerima permintaan maaf yang telah dilakukan Ahok. Sebab, memaafkan orang yang bersalah adalah ajaran Islam.
Sementara, terkait kasus hukum yang menyangkut Ahok, Din mengaku pihaknya tak masuk ke wilayah itu. Proses penegakan hukum seharusnya menjadi urusan negara dan lembaga penegak hukum.
“Negara harus segera hadir, kalau tidak, apalagi terlambat hanya akan membawa ke suasana yang lebih buruk lagi,” tandasnya.
Senin, 17 Oktober 2016

Rusia Umumkn Jeda Serangan Delapan Jam di Aleppo



Foto: Seorang bapak dan anak memandangi bangunan yang hancur di Aleppo akibat kebrutalan Rusia dan Suriah [foto: Anadolu Agency]
KIBLAT.NET, Moskow – Militer Rusia mengumumkan jeda serangan di kota Aleppo selama delapan jam untuk memungkinkan masuknya konvoi bantuan.
Kepala departemen Staf Khusus Rusia, Letnan Jenderal Sergey Rudskoy mengatakan bahwa pemboman akan dihentikan antara pukul 08:00 sampai 16:00 waktu setempat.
Dia juga mengatakan, enam koridor kemanusiaan akan dibuka untuk memungkinkan warga sipil yang terluka bisa dievakuasi.
“Kami siap untuk menghentikan kegiatan militer atas permintaan organisasi bantuan kemanusiaan untuk akses tenaga medis dan evakuasi yang terluka dan sakit,” katanya pada Senin (17/10).
Walau begitu, Rudskoy mengaku akan mengesampingkan opsi gencatan senjata yang memungkinkan pasukan oposisi berkumpul di Aleppo timur.
Gencatan senjata pada bulan lalu telah runtuh setelah sejumlah jet rezim Assad dan Rusia menargetkan konvoi bantuan dan warga sipil.
Tidak hanya itu, mereka juga menyasar rumah sakit, tenaga medis dan infrastruktur penting lainnya dengan bom cluster dan senjata kimia.
“Mereka sengaja menargetkan rumah sakit, tenaga medis, sekolah dan infrastruktur penting dengan menggunakan bom cluster serta senjata kimia dan ini merupakan kejahatan perang,” pungkas Dewan Luar Negeri Uni Eropa

Berdalih Cari Pejuang Aqamul Mujahidin Rohingya, Militer Lakukan Pembersihan Etnis


Foto: Pasukan keamanan Myanmar bakar rumah-rumah warga Rohingya dengan alih mencari mujahidin Rohingya.
KIBLAT.NET, Rakhine – Kelompok advokasi Rohingya di seluruh dunia terus mengungkapkan keprihatinan serius atas tindakan represif militer dan polisi di Myanmar barat.
Aparat Myanmar saat ini tengah mencari mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan sembilan polisi. Mereka menuding mujahidin Rohingya yang menjadi pelaku serangan itu.
Sembilan orang terbunuh termasuk delapan orang bersenjata di tiga serangan terpisah di pos-pos polisi di perbatasan Myanmar-Bangladesh di barat negara bagian Rakhine pada 9 Oktober lalu.
Pos-pos polisi yang diserang terletak di Maungdaw dan Yathay Taung. Kedua daerah itu sebagian besar ditempati oleh penduduk Muslim Rohingya, yang dijelaskan oleh PBB sebagai salah satu kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia.
Pada akhir pekan ini, sebuah pernyataan dari kelompok “Selamatkan Rohingya dari Pembantaian” menyatakan bahwa militer dan polisi tanpa pandang bulu kembali membunuhi warga Rohingya, membakar dan menjarah rumah-rumah dan desa mereka, dengan dalih mencari penyerang pos polisi.
“Dua kuburan massal telah ditemukan, yang tak kurang berjumlah sekitar 100 warga sipil termasuk orang-orang tua, wanita dan anak-anak atas pembunuhan ekstra yudisial,” kata kelompok itu.
Pernyataan yang dirilis pada Senin, (17/10) itu menambahkan bahwa setidaknya lima desa Rohingya juga telah dibakar saat pasukan pemerintah mencari pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab.
“Penyerbuan aparat telah menyebabkan banyak warga Rohingya melarikan diri desa mereka. Diperkirakan, sekitar 5.000 warga Rohingya telah mengungsi dan menyebabkan bencana kemanusiaan besar. Ada pemberlakuan jam malam dan blokade, ada kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan akut lainnya. Situasi ini terus memburuk,” tambah kelompok advokasi Rohingya itu.
Kendati demikian, media-media pemerintah Myanmar mengklaim penyerangan 9 Oktober memakan korban tidak lebih dari 33 orang – termasuk empat tentara dan 29 penyerang diduga – telah tewas, termasuk dua perempuan.
Pada tanggal 14 Oktober, pemerintah Myanmar mengatakan bahwa serangan awal pada pos-pos polisi dilakukan oleh organisasi Aqa Mul Mujahidin, yang digambarkan sebagai berafiliasi dengan Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO), sebuah kelompok yang dicap ekstremis oleh rezim junta militer Myanmar.

Massa Serang Rumah Pemimpin Sekte Syiah Nigeria

Sedikitnya 10 orang terluka ketika massa menyerang rumah seorang tokoh sekte Syiah di negara bagian Kaduna barat laut Nigeria Sabtu, menurut warga di daerah, Anadolu Agency melaporkan Ahad (16/10/2016).

“Krisis dimulai awal hari ini ketika beberapa anggota Syiah mencoba mengibarkan bendera mereka di tempat kediaman pendeta Syiah, Mukhtar Sahabi, yang dibakar Rabu lalu di Tundun Wada. Tapi mereka diserang oleh gerombolan massa membawa parang yang menantang mereka,” Sadu Abubakar, warga daerah, mengatakan kepada Anadolu Agency.
Penduduk setempat mengatakan insiden itu disebabkan meningkatnya kecemasan di daerah, terutama di Ungwan Muazu dan Kinkinau.

Ibrahim Musa, juru bicara gerakan Syiah, mengatakan kepada Anadolu Agency: “Anggota kami diserang hari ini di salah satu pusat gerakan dan rumah salah satu pemimpin kami yang baru-baru ini dibakar; 10 luka berat. Sayangnya, polisi hanya menyaksikan massa menyerang anggota kami.”

Juru bicara polisi Kaduna Aliyu Usman membantah tuduhan bahwa polisi tidak melakukan apa pun untuk mengendalikan situasi. “Kami sedang memantau situasi dan akan menangani pers nanti,” kata Usman.

Rabu lalu, 18 pengikut sekte Syiah tewas dalam serangan terhadap prosesi ritual Asyura di barat laut kota Funtua dan kota Kaduna ; 15 orang dilaporkan tewas akibat tembakan polisi, sementara tiga orang lainnya tewas ketika massa membakar rumah pemimpin Syiah setempat, Sheikh Sahabi. (jurnalislam)

Perang Mosul Dimulai

Pasukan Irak memulai serangan yang telah lama ditunggu-tunggu untuk merebut kembali Mosul, benteng besar terakhir ISIS di negara itu.
Dalam pengumuman yang disiarkan secara nasional pada Senin dini hari, waktu setempat, Perdana Menteri Haidar Al-Abadi mengumumkan dimulainya perang untuk mengambil kembali kota kedua terbesar Irak itu.
Perebutan kembali Mosul dianggap penting untuk pertempuran yang lebih luas terhadap ISIS. Kelompok ini telah menderita serangkaian kerugian akhir-akhir ini, termasuk pada hari Minggu kemarin, ketika FSA Suriah yang didukung oleh Turki melaju merebut kota Suriah Dabiq.
“Jam kemenangan telah terdengar dan operasi pembebasan Mosul telah dimulai,” kata Abadi dikelilingi oleh komandan senior Irak. “Kami mendesak Anda, orang-orang heroik Mosul, untuk bekerja sama dengan pasukan keamanan kami untuk menyelamatkan Anda,” ungkapnya meminta dukungan dari warga Mosul.
Para pejabat intelijen Irak mengatakan ada tanda-tanda dukungan untuk ISIS di dalam kota dan kekacauan di jajaran keamanan rezim. Pembelotan massal, persaingan internal dan penduduk setempat yang semakin bergolak telah berkontribusi pada rasa percaya diri dalam diri militer Irak.
Negara Islam mampu menaklukkan Mosul pada tahun 2014 sebagian besar karena mayoritas Sunni setempat kecewa dengan pemerintah pusat yang didominasi Syiah dan militer dibentuk oleh kebijakan Amerika setelah invasi Irak 2003. Administrasi politik dan keamanan rezim di Mosul runtuh ketika ISIS tiba.

Lima Provinsi Afghanistan Ini Jadi Fokus Operasi Taliban

Kabul – Dari 34 provinsi di Afghanistan, Taliban memfokuskan operasinya di lima provinsi. Dua di wilayah utara (Kunduz dan Baghlan), dua di selatan (Helmand dan Uruzgan), serta satu di wilayah barat (Farah).
Taliban memulai operasinya di kawasan-kawasan pedesaan dari lima provinsi tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh gubernur bayangan Taliban di Uruzgan, Mullah Aminullah Yousuf, bulan April 2016 lalu, strategi ini dilakukan untuk memaksimalkan perekrutan dan pelatihan pejuang, pengumpulan dana, pengiriman bahan pokok, serta penyerangan di pusat-pusat kota.
Secara ringkas, inilah operasi Taliban di lima kota tersebut:
1. Kunduz: Taliban berhasil menguasai Kunduz pada 3 Oktober lalu. Pemerintah Afghanistan mengklaim bahwa kota itu hanya dikuasai Taliban selama 9 hari, hingga akhirnya dapat direbut kembali dengan dukungan pasukan NATO. Meski demikian, Taliban masih menguasai pinggiran kota Kunduz. Tujuh distrik dari provinsi ini dilaporkan tengah diperebutkan.
2. Baghlan: Ibukota Pul-i-Khumri di provinsi Baghlan telah berada di bawah tekanan Taliban sejak Mei 2016. Selain kota itu, 3 distrik dari 13 lainnya masih dalam perebutan. Taliban secara rutin menutup jalan raya yang menghubungkan kota Kunduz dengan Pul-i-Khumri.
3. Helmand: Lebih dari setahun Taliban melakukan operasi di Lashkar Gah, ibukota provinsi ini. Pada Oktober 2015, Taliban dapat merangsek masuk ke dalam Lashkar Gah setelah melakukan pengepungan. Awal pekan ini, Taliban menyergap dan membunuh puluhan tentara Afghanistan, setelah 300 lainnya melarikan diri. Dari 14 distrik di Helmand, enam darinya dilaporkan berada dalam kendali Taliban. Adapun lainnya masih diperebutkan.
4. Uruzgan: Sejak awal September, ibukota Tarin Kot menjadi target serangan Taliban. Dari enam distrik di Uruzgan, satu daerah berada dalam kendali Taliban. Sedangkan lima lainnya masih diperebutkan.
5. Farah: Taliban memotong jalan ke kota Farah pada awal Oktober dan melakukan serangan dari utara. Komandan militer Afghanistan bahkan sampai mengatakan bahwa kota ini akan segera jatuh. Seorang juru bicara Taliban mengatakan pada 13 Oktober bahwa operasi dilakukan di daerah musuh di Baghi Pul dan pejuang dilaporkan mendekati kota E & N. Empat distrik di 11 distrik di provinsi Farah tengah dikendalikan atau diperebutkan oleh Taliban.

Demo Ahok: Ramai di Kota-Kota Indonesia hingga Jadi Perhatian Dunia

Jakarta – Aksi demo menuntut proses hukum atas Ahok karena dinilai melecehkan Al-Quran Jum’at (14/10) lalu, ternyata bukan hanya menjadi perhatian warga Jakarta dan sekitarnya. Berbagai kota lain di Indonesia pun turut meramaikannya.
Di hari yang sama, gabungan ormas di Aceh menggelar aksi serupa di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Massa meminta agar aparat segera menangkap Ahok, selain mengingatkan kepada umat Islam untuk terus melakukan pembelaan terhadap Al-Qur’an.
Adapun di Pekan Baru, Riau, himpunan ormas Islam juga menuntut agar Ahok segera ditangkap. “Jika aparat penegak hukum tidak menangkap Ahok dan tidak memproses hukum, jangan salah jika umat Islam akan melakukan tindakan,” demikian salah satu bunyi orasi yang disampaikan.
Di pulau seberang, tepatnya di ibukota Kalimantan Timur, Samarinda, massa dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dua hari sebelumnya juga telah menuntut agar Ahok diadili dan dihukum. Hal itu dilakukan menyusulnya merebaknya video Ahok yang menyebut Surat Al-Maidah sebagai alat untuk pembodohan.
Umat Islam di Pontianak pun menyuarakan hal senada. Yaitu meskipun Ahok mengaku telah minta maaf terkait ucapannya, proses hukum harus tetap dilakukan.
Sejumlah kota di Jawa Tengah pun tak ketinggalan menggelar aksi serupa. Di wilayah Purworejo, Magelang dan Solo, kecaman terhadap Ahok disuarakan sebagai bentuk pembelaan terhadap Al-Qur’an yang telah dilecehkan. Mereka pun juga menuntut hal serupa, yakni proses hukum terhadap Ahok.
Di Ponorogo dan Jember, Jawa Timur tuntutan “Tangkap dan Hukum Penghina Al-Qur’an” juga disuarakan lewat berbagai selebaran dan spanduk. Sebagaimana kota-kota lainnya, aksi itu untuk merespon ucapan Ahok yang dinilai melecehkan Al-Qur’an.
Sedangkan di wilayah Sulawesi, yakni di Makassar dan Palu, ratusan orang yang tergabung dalam aliansi pemuda Muslim bergerak menuntut agar Polri segera mengusut tuntas kasus Ahok yang dinilai melecehkan Al’Qur’an. Aksi dilakukan semata-mata karena panggilan akidah, bukan lantaran berbagai kepentingan yang menyangkut Pilkada DKI.